Hai, Emak Strong!
Apakah Emak pernah mendengar istilah eksibisionis? Pernahkah Emak berada di tempat keramaian atau sedang berada dalam transportasi umum menemukan seseorang memamerkan alat kelaminnya? Dan masih ingatkah Emak dengan aksi aneh yang dilakukan seorang wanita yang berpura-pura handuknya tiba-tiba lepas hanya untuk mengerjai abang ojol yang mengantar makanan ke tempat kosnya? Kejadian ini dia rekam dan diunggah sosial media. Aksinya ini berhasil membuat heboh dan mendapat kecaman dari berbagai pihak.
Perilakunya ini mengingatkan kita dengan kelainan seksual yang bernama eksibisionis, yaitu suatu kelainan seksual dimana penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan menunjukan alat kelaminnya bahkan melakukan masturbasi di depan umum. Kelainan ini banyak di derita oleh pria. Apakah yang senang mempertontonkan hal-hal vulgar pada dirinya di sosial media termasuk eksibisionis? Yuk, Emak cari tahu faktanya.
1. Eksibisionis termasuk kelainan psikologis
Kelainan psikologis jenis parafilia yang tergolong aneh namun tidak langka, dimana penderita mempunyai hasrat seksual yang ekstrem dan tidak biasa
2. Penderita eksibisionis tidak merasa bersalah ketika melakukan aktifitas menunjukkan alat kelaminnya bahkan mereka menikmatinya, seperti maturbasi di keramaian.
BACA JUGA
Bagaimana Menjelaskan konsep kematian kepada anak
3. Secara teori kelainan ini banyak dialami oleh pria, dampak dari kelebihan hormon testosteron. Namun tidak menutup kemungkinan wanita juga mengalami kelainan ini. Faktanya dalam tubuh wanita juga ditemukan hormon testosterone. Jika melebihi batas normal tentu ada kemungkinan sang wanita memiliki gairah sex berlebihan.
4. Penegakan diagnosa dari kelainan ini harus memenuhi beberapa syarat
Diagnosa seseorang mengalami kelainan ini dapat ditegakan bila ia kecendrungan menutup diri, mengalami kesulitan berkomunikasi dengan lawan jenis, memiliki perilaku atau dorongan menunjukan organ intimnya kepada orang lain tanpa persetujuan, setidaknya dalam kurun waktu minimal 6 bulan, berulang dan intens. Mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan karena fantasi, gairah sex yang tinggi. Hingga dia dijauhi orang sekitarnya.
5. Banyak faktor yang mendorong terjadinya eksibisionis
Eksibisionis terjadi karena banyak faktor seperti keturunan, kecendrungan antisosial, pedolia, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau pelecehan secara seksual dan emosional sewaktu masih kanak-kanak.
6. Kebanyakan penderita eksibisionis ini tidak berusaha mengobati kelainannya sampai ditangkap
7. Penderita eksibisionis bisa dipidanakan, bila ada yang merasa dirugikan atas tindakannya.
Di Negara kita ada dasar hukumnya yakni, UU No. 44 tahun 2008, tentang pornografi pasal 10 yang berbunyi
“ setiap orang dilarang mempertontonkan diri dan orang lain dalam pertunjukan atau dimuka umum yang mengambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau muatan pornografi lainnya”
Dan pada pasal 36, orang yang melanggar bisa dipidanakan dengan penjara paling lama 10 tahun dan atau denda paling tinggi Rp 5M
Jika penderita eksibisionis berada dekat Emak, lakukan tips ini:
1. jangan tunjukan rasa panik atau rasa takut, karena ketika melihat orang lain takut, pelaku akan merasa puas.
2. Berteriaklah yang lantang yang bisa membuat malu pelaku eksibisionis, seperti “ ih.. kecil!” atau “maling!”
3. lebih baik menjauh dan selamatkan diri, Mak! Agar terhindari dari hal-hal tak diingikan.
Demikan fakta tentang eksibisionis, Mak. Tetap waspada dan berhati-hati dimanapun berada, semoga ulasan ini bermanfaat.
Penulis : Elvida Busma (elv.fifa0424@gmail.com)
0 Comments