Haddeh! Ada loh mak, emak-emak yang bangga bercerita, bahwa seumur-umur anaknya cuma punya satu mainan boneka di rumahnya, itupun juga dibelikan oleh pamannya.
"Loh loh..apa alasannya coba." Ternyata dia bilang tidak ingin membuang buang uang yang hanya untuk sesuatu barang yang tidak berselang lama akan menjadi sampah, dan nanti anaknya akan terbiasa bermain terus, hingga bisa membuatnya ketagihan, dan kalau di jalan tak bisa ketemu sama paman-paman yang jual mainan malah bikin repot orang tuanya, ngamuk minta jajan mainan.
Ini nih mak yang perlu diluruskan, kebiasaan sih kita menilai buruk sesuatu sebelum terjadi, padahal belum mengetahui dan mengilmuinya.
Contohnya nih ya... membuang- buang uang, kan mainan tidak harus mahal, kita bisa memanfaatkan benda yang bisa dibuat mainan yang ada di sekitar kita, dan saya rasa tak mengapa sesekali membelikan hadiah mainan untuk anak atau semacam apresiasi atas sesuatu perkembangan yang positif yang ada pada dirnya. Misalnya dia sudah lebih mandiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari dan sebagainya.
Anak terbiasa bermain?, lah! Anak kan memang fitrahnya bermain, dunia anak adalah bermain, dia akan gembira berlarian kesana kemari, merakit benda, mengopersikan benda, memerankan diri mereka dan sebagainya.kalau dilarang berarti menghambat perkembangan daya intelektualnya,perkembangan sosialnya, perkembanga emosinya, perkembangan fisiknya serta perkemabangan kreativitasnya. bahkan kalau semua dilarang lantas anaknya disuruh diam aja gituh? "Ohh...menyedihkan sekali mak.
Nah! Yang sering jadi masalah adalah poin terakhir ini.hal ini yang sering membuat emak-emak trauma karena ngamuk ingin dibelikan mainan, hingga sebelum itu menjadi sebuah kebiasaan, Maka si emak mengcut duluan.
Berikut ulasan untuk mengurangi galaunya emak-emak menghadapi anak yang sering tantrum gara-gara mau jajan mainan.
1. Komunikasi terarah sejak dini.
Ini yang sering dilupakan emak-emak.intinya sih malas celoteh. Jadi emmak itu nggga afdhol kalau ngga cerewet. Tapi cerewet yang bagaimana dulu.cerewetlah yang positif!.
Anak kalau dibiasakan komunikasi sejak dini.sejak dalam kandungan malahan akan mudah mencerna apa yang disampaikan oleh orang tuanya. Ada saatnya kita harus lembut dan ada saatnya kita harus tegas.
2. Surprise kan hadiah mainan.
Saya kalau ada rezeki biasa memberikan mainan secara surprise kepada anak, Misalnya menghadiahkan mereka mobil-mobilan, susun-susunan dan lain sebagainya. Jadi tidak malah anak yang dipersilahkan memilih dan dibawa ke toko mainan, Karena mak, yang tau mainan yang terbaik untuk mendukung semua jenis perkembangannya adalah kita,yang aman dan tidak merusak mentalnya adalah kita. Lagian ini membuka celah tantrum loh! dikemudian hari.
3. Ajarkan dia menyayangi mainannya.
Kita sampaikan dengan baik supaya dia menyayangi mainannya, dan menyimpannya kembali setelah bermain, bisa juga kita sebagai emak membantunya untuk menyimpankan mainan-mainan yang sudah mulai bosan dimainkan, dan dilain hari kita perlihatkan kembali serta mengajaknya untuk memainkannya lagi. Karena anak pasti bisa memperbaharui rindunya kembali dan asik dengan mainan lama yan sudah lama tak dilihatnya atai dimainkannya.
4. Ajak bermain bersama
Sesekali boleh lah kita bermain bersama mereka agar dia merasa bahagia dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, bahkan lebih dari cukup, karena rasa asik bermain dengan orang tua akan terasa beda jika melulu bermain sendiri atau dengan teman-temannya.
5. Pilihkan mainan
Memilah dan memimilih mainan itu penting, karena ada mainan yang bisa berbahaya dan malah merusak mentalnya. Jadi pilihkan mainan yang memapankan jiwa dan karakternya. Membantu perkembangan fisik dan psikisnya.
6. Belajar menciptakan mainan sendiri
Terkadang anak lebih asik loh dengan mainan-mainan handmade. Memanfaatkan benda-benda di sekitar saja. Jadi emak dituntut kreatif apalagi mendidik di tengah-tengah keterbatasan ekonomi. so ngga melulu mahal kan!.
7. Bicara dari hati ke hati.
He he..ini pernah terjadi loh pada ku, pas lewat di toko mainan, si ade ngamuk mau beli mainan, kebetulan saya y
Tidak bawa uang cukup dan kebetulan juga dia memiliki mainan yang sama dengan yang ingin dibelinya. Aku berusahaa tenang dalam keadaan tantrumnya, sedikit demi sedikit kumasukkan nasehat hingga sampai di rumah dia masih nangis dan tenang dengan sendirinya. Disaat dia senang dan kembali bermain ku dekati dia dan kutanyakan beberapa hal, kusampaikan beberapa nasehat, kugali daya pikirnya hingga dilain kesempatan dia mengingat kembali kekeliruannya. Begitu seterusnya, dan ini bukan hal yang mudah memang, penuh perjuangan, yang jelas sebagai orang tua jangan hambat fitrah anak untuk bermain, apalagi sampai memberikan label" Anak yang suka bermain nanti tidak mau pandai" what!! Emak smart pasti mengerti tahap perkembangan anak sehingga bisa menakar porsi disetiap mainan-mainan yang diberikan, berikut dengan managment waktu yang tetap terkondisikan untuk bermain, belajar, dan beristirahat.
Salam emak smart
"Loh loh..apa alasannya coba." Ternyata dia bilang tidak ingin membuang buang uang yang hanya untuk sesuatu barang yang tidak berselang lama akan menjadi sampah, dan nanti anaknya akan terbiasa bermain terus, hingga bisa membuatnya ketagihan, dan kalau di jalan tak bisa ketemu sama paman-paman yang jual mainan malah bikin repot orang tuanya, ngamuk minta jajan mainan.
Ini nih mak yang perlu diluruskan, kebiasaan sih kita menilai buruk sesuatu sebelum terjadi, padahal belum mengetahui dan mengilmuinya.
Contohnya nih ya... membuang- buang uang, kan mainan tidak harus mahal, kita bisa memanfaatkan benda yang bisa dibuat mainan yang ada di sekitar kita, dan saya rasa tak mengapa sesekali membelikan hadiah mainan untuk anak atau semacam apresiasi atas sesuatu perkembangan yang positif yang ada pada dirnya. Misalnya dia sudah lebih mandiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari dan sebagainya.
Anak terbiasa bermain?, lah! Anak kan memang fitrahnya bermain, dunia anak adalah bermain, dia akan gembira berlarian kesana kemari, merakit benda, mengopersikan benda, memerankan diri mereka dan sebagainya.kalau dilarang berarti menghambat perkembangan daya intelektualnya,perkembangan sosialnya, perkembanga emosinya, perkembangan fisiknya serta perkemabangan kreativitasnya. bahkan kalau semua dilarang lantas anaknya disuruh diam aja gituh? "Ohh...menyedihkan sekali mak.
Nah! Yang sering jadi masalah adalah poin terakhir ini.hal ini yang sering membuat emak-emak trauma karena ngamuk ingin dibelikan mainan, hingga sebelum itu menjadi sebuah kebiasaan, Maka si emak mengcut duluan.
Berikut ulasan untuk mengurangi galaunya emak-emak menghadapi anak yang sering tantrum gara-gara mau jajan mainan.
1. Komunikasi terarah sejak dini.
Ini yang sering dilupakan emak-emak.intinya sih malas celoteh. Jadi emmak itu nggga afdhol kalau ngga cerewet. Tapi cerewet yang bagaimana dulu.cerewetlah yang positif!.
Anak kalau dibiasakan komunikasi sejak dini.sejak dalam kandungan malahan akan mudah mencerna apa yang disampaikan oleh orang tuanya. Ada saatnya kita harus lembut dan ada saatnya kita harus tegas.
2. Surprise kan hadiah mainan.
Saya kalau ada rezeki biasa memberikan mainan secara surprise kepada anak, Misalnya menghadiahkan mereka mobil-mobilan, susun-susunan dan lain sebagainya. Jadi tidak malah anak yang dipersilahkan memilih dan dibawa ke toko mainan, Karena mak, yang tau mainan yang terbaik untuk mendukung semua jenis perkembangannya adalah kita,yang aman dan tidak merusak mentalnya adalah kita. Lagian ini membuka celah tantrum loh! dikemudian hari.
3. Ajarkan dia menyayangi mainannya.
Kita sampaikan dengan baik supaya dia menyayangi mainannya, dan menyimpannya kembali setelah bermain, bisa juga kita sebagai emak membantunya untuk menyimpankan mainan-mainan yang sudah mulai bosan dimainkan, dan dilain hari kita perlihatkan kembali serta mengajaknya untuk memainkannya lagi. Karena anak pasti bisa memperbaharui rindunya kembali dan asik dengan mainan lama yan sudah lama tak dilihatnya atai dimainkannya.
4. Ajak bermain bersama
Sesekali boleh lah kita bermain bersama mereka agar dia merasa bahagia dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, bahkan lebih dari cukup, karena rasa asik bermain dengan orang tua akan terasa beda jika melulu bermain sendiri atau dengan teman-temannya.
5. Pilihkan mainan
Memilah dan memimilih mainan itu penting, karena ada mainan yang bisa berbahaya dan malah merusak mentalnya. Jadi pilihkan mainan yang memapankan jiwa dan karakternya. Membantu perkembangan fisik dan psikisnya.
6. Belajar menciptakan mainan sendiri
Terkadang anak lebih asik loh dengan mainan-mainan handmade. Memanfaatkan benda-benda di sekitar saja. Jadi emak dituntut kreatif apalagi mendidik di tengah-tengah keterbatasan ekonomi. so ngga melulu mahal kan!.
7. Bicara dari hati ke hati.
He he..ini pernah terjadi loh pada ku, pas lewat di toko mainan, si ade ngamuk mau beli mainan, kebetulan saya y
Tidak bawa uang cukup dan kebetulan juga dia memiliki mainan yang sama dengan yang ingin dibelinya. Aku berusahaa tenang dalam keadaan tantrumnya, sedikit demi sedikit kumasukkan nasehat hingga sampai di rumah dia masih nangis dan tenang dengan sendirinya. Disaat dia senang dan kembali bermain ku dekati dia dan kutanyakan beberapa hal, kusampaikan beberapa nasehat, kugali daya pikirnya hingga dilain kesempatan dia mengingat kembali kekeliruannya. Begitu seterusnya, dan ini bukan hal yang mudah memang, penuh perjuangan, yang jelas sebagai orang tua jangan hambat fitrah anak untuk bermain, apalagi sampai memberikan label" Anak yang suka bermain nanti tidak mau pandai" what!! Emak smart pasti mengerti tahap perkembangan anak sehingga bisa menakar porsi disetiap mainan-mainan yang diberikan, berikut dengan managment waktu yang tetap terkondisikan untuk bermain, belajar, dan beristirahat.
Salam emak smart
Penulis: Rusmini ummu huwaida
Email: rusmini.huwaida12@gmail.com
0 Comments