Dear Emak,
Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia, bukan? Tak ada satupun yang ingin hidupnya susah, sedih, merana, dan sebagainya. Untuk itu, apapun akan dilakukan demi meraih kebahagiaan dalam hidupnya.
Rasa bahagia bisa muncul ketika mendapatkan sesuatu atau terjadi sesuatu yang amat disukai. Atau dinantikan. Rasa itu merupakan hal yang alami.
Rasa bahagia juga bisa muncul berdasarkan cara pandang kita terhadap arti kebahagiaan itu sendiri. Ada yang menganggapnya berdasarkan banyaknya harta, penampilan fisik yang menarik, status sosial yang tinggi dan bergengsi, jabatan yang bagus, karier yang bagus, dan lainnya. Bagi sebagian besar orang-orang yang seperti ini, apapun akan dilakukan untuk mencapainya. Bahkan menjadi tujuan hidupnya di dunia ini. Tak jarang juga, sampai menghalalkan segala cara.
Padahal, benarkah demikian? Itukah arti kebahagiaan yang sesungguhnya?
Jawabannya, tidak. Mengapa? Banyak orang yang sudah memiliki segalanya, dari mulai harta, jabatan, tampang fisik, dan lainnya, namun hidupnya tetap terasa kosong, kering. Tak bermakna. Hidup hanya untuk bersenang-senang saja. Lupa kepada Sang Pemberi semuanya itu, yaitu Allah. Lupa jika semuanya hanyalah titipan dan suatu saat akan dihisab pada Hari Perhitungan.
Lalu, kebahagiaan sejati itu seperti apa?
Jawabannya, kebahagiaan sejati adalah ketika kita menyadari sepenuhnya hakikat hidup ini. Sadar tentang siapa kita, apa tujuan kita berada di dunia ini, dan akan ke mana kita nanti setelah mati. Sadar betul, diri kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya, yang memiliki tugas di dunia ini untuk beribadah, mengumpulkan amal solih. Dan kelak akan kembali kepada Allah setelah kita mati. Di sana tak ada lagi amal, yang ada hisab tentang apa saja yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sejauh mana ketaatan kita dalam menjalankan segala aturan-Nya? Intinya, senantiasa sadar bahwa kita ada hubungan dengan Allah (idraq shilatubillah).
Dengan demikian, kebahagiaan yang kita inginkan bukan hanya berorientasi duniawi saja, melainkan sampai ke negeri akhirat. Meski dalam perjalanannya penuh perjuangan. Itulah yang seharusnya dikejar oleh setiap muslim. Semoga kita dimudahkan dalam meraih kebahagiaan sejati sebagai seorang. muslim. Aamiin
Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia, bukan? Tak ada satupun yang ingin hidupnya susah, sedih, merana, dan sebagainya. Untuk itu, apapun akan dilakukan demi meraih kebahagiaan dalam hidupnya.
Rasa bahagia bisa muncul ketika mendapatkan sesuatu atau terjadi sesuatu yang amat disukai. Atau dinantikan. Rasa itu merupakan hal yang alami.
Rasa bahagia juga bisa muncul berdasarkan cara pandang kita terhadap arti kebahagiaan itu sendiri. Ada yang menganggapnya berdasarkan banyaknya harta, penampilan fisik yang menarik, status sosial yang tinggi dan bergengsi, jabatan yang bagus, karier yang bagus, dan lainnya. Bagi sebagian besar orang-orang yang seperti ini, apapun akan dilakukan untuk mencapainya. Bahkan menjadi tujuan hidupnya di dunia ini. Tak jarang juga, sampai menghalalkan segala cara.
Padahal, benarkah demikian? Itukah arti kebahagiaan yang sesungguhnya?
Jawabannya, tidak. Mengapa? Banyak orang yang sudah memiliki segalanya, dari mulai harta, jabatan, tampang fisik, dan lainnya, namun hidupnya tetap terasa kosong, kering. Tak bermakna. Hidup hanya untuk bersenang-senang saja. Lupa kepada Sang Pemberi semuanya itu, yaitu Allah. Lupa jika semuanya hanyalah titipan dan suatu saat akan dihisab pada Hari Perhitungan.
Lalu, kebahagiaan sejati itu seperti apa?
Jawabannya, kebahagiaan sejati adalah ketika kita menyadari sepenuhnya hakikat hidup ini. Sadar tentang siapa kita, apa tujuan kita berada di dunia ini, dan akan ke mana kita nanti setelah mati. Sadar betul, diri kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya, yang memiliki tugas di dunia ini untuk beribadah, mengumpulkan amal solih. Dan kelak akan kembali kepada Allah setelah kita mati. Di sana tak ada lagi amal, yang ada hisab tentang apa saja yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sejauh mana ketaatan kita dalam menjalankan segala aturan-Nya? Intinya, senantiasa sadar bahwa kita ada hubungan dengan Allah (idraq shilatubillah).
Dengan demikian, kebahagiaan yang kita inginkan bukan hanya berorientasi duniawi saja, melainkan sampai ke negeri akhirat. Meski dalam perjalanannya penuh perjuangan. Itulah yang seharusnya dikejar oleh setiap muslim. Semoga kita dimudahkan dalam meraih kebahagiaan sejati sebagai seorang. muslim. Aamiin
Penulis: Nurmita Dewi
Email: dewi.nurmita@gmail.com
Email: dewi.nurmita@gmail.com
0 Comments