Perdebatan mengenai pilihan menjadi ibu rumah tangga tulen atau merangkap sebagai wanita karier setelah menikah memang kerap menimbulkan dilema. Apalagi jika dilihat begitu banyak perempuan yang eksis di berbagai kancah kehidupan, dari mulai bisnis, berbagai profesi, aktifis politik, pemerintahan, dan lainnya. Banyak faktor yang mendorong mereka memilih untuk tetap berkarier setelah menikah, di antaranya:
Dari sisi ekonomi, adanya keinginan membantu suami memenuhi kebutuhan hidup yang kian tinggi, atau suami sedang dalam keadaan tidak mampu bekerja secara optimal karena sakit yang lama, cacat, lumpuh. Lalu berusaha menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah.
Secara psikologis, adanya semacam perasaan takut kehilangan identitas diri. Sebelum menikah, mungkin terbiasa aktif bergaul, berorganisasi, bahkan sudah bekerja tanpa ada tuntutan apapun. Namun setelah menikah, semua terasa berubah. Menjadi lebih banyak di rumah mengurus suami dan anak-anak, dengan tumpukan pekerjaan rumah tangga yang seolah tiada habisnya. Semua itu, dapat terjadi perubahan sikap pula, seperti mudah tersinggung, sensitif, tidak berguna, stres, bosan, dan lain sebagainya.
Dan dari sisi sosial, adanya perubahan tatanan masyarakat kita saat ini, di mana perempuan didorong untuk berkarier di luar rumah, berjuang mensejajarkan diri dengan laki-laki. Dahulu kebanyakan perempuan seperti diatur supaya lebih banyak di rumah. Dibekali keterampilan seperti menjahit, memasak, menyulam, dan lainnya. Selain itu, ada semacam kebanggaan ketika tetap berkarier. Merasa berguna dan dibutuhkan. Jika tetap menjadi ibu rumah tangga saja terasa menyedihkan, kerap dipandang sebelah mata, dianggap menghambat kemajuan, tidak produktif, karena tidak dapat menghasilkan apapun. Maka, jadilah kita semakin merasa tidak berguna. Akhirnya, tetap berkarier menjadi pilihan.
Namun, di sisi lain, dengan tetap bekerja, otomatis kita harus meninggalkan keluarga, suami dan anak-anak. Otomatis, kita harus pandai mengatur waktu antara keluarga dan bekerja. Jika tidak ingin keteteran, atau salah satu menjadi dikorbankan. Semua itu, kerap menjadi dilema bagi para ibu rumah tangga yang memilih tetap berkarier di luar rumah.
Lalu, benarkah menjadi ibu rumah tangga membuat kita menjadi tidak produktif? Pemikiran ini jelas tidak benar. Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan di rumah tanpa harus meninggalkan keluarga berlama-lama, sehingga suami dan anak tidak ada yang dilalaikan. Semua dapat kita kendalikan. Tentunya harus disesuaikan dengan passion atau kesukaan. Misalnya menjadi penulis, berbisnis online, ikut berbagai kursus online untuk mengembangkan diri, dan lainnya. Apalagi sekarang memang zaman digital, di mana teknologi komunikasi semakin canggih. Semua bisa kita dapatkan dengan mudah meski dari rumah.
Tidak mengapa jika sesekali kita ingin keluar rumah sebentar, menghibur diri dengan melakukan aktifitas yang menyenangkan, misalkan menghadiri kajian-kajian keislaman, saling sharing dengan ibu-ibu yang lain, atau ikut komunitas tertentu yang sesuai minat kita. Namun, dengan syarat harus dengan izin suami, tidak melalaikan kewajiban kita sebagai istri dan ibu, dan memperhatikan hukum-hukum yang berlaku di masyarakat ketika keluar rumah, terutama hukum agama, serta pandai menjaga diri dari fitnah. Sehingga kehormatan kita tetap terjaga dan tetap dalam ridha Allah. Intinya, lakukan aktifitas yang positif dan buang jauh-jauh pikiran negatif. Karena sesungguhnya pemikiran negatif itulah yang menghambat kita untuk maju. Bukan karena peran kita sebagai ibu rumah tangga.
Terakhir, yang terpenting adalah kita harus sadar bahwa ketika kita memutuskan siap menikah otomatis harus siap pula dengan peran dan tanggung jawab baru yang akan dijalani. Yaitu sebagai istri dan ibu. Karena itu, ketika akan menikah setiap pasangan suami istri perlu melakukan persiapan di antaranya yaitu: persiapan mental dan ilmu. Itulah sebabnya mengapa usia calon pasutri itu menjadi pertimbangan. Agar ketika memasuki biduk rumah tangga keduanya sudah mengerti kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga dapat terbentuk keluarga yang samara, sebagaimana cita-cita awal saat memutuskan menikah.
Penulis: Nurmita Dewi
Email penulis: dewi.nurmita@gmail.com
0 Comments