Rahmah El Yunusiyah, Sosok Pejuang Perempuan Tangguh Dari Sumatra Barat



Halo, Mak Strong!
Perempuan memang makhluk istimewa, iya khan Mak! Bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Di rumah semua tugas dan fungsi dikerjakan, Emak bisa jadi menteri keuangan, dokter buat kesehatan keluarga, ojek antar jemput anak sekolah, koki, penata pakaian, penata interior rumah dan lain-lain. Lebih unik lagi memasak sambil mencuci, momong anak dan ngetik artikel di handphone. Pokoknya Emak nomer satu. Yeaay! 

Dan pada kesempatan ini Tips Ala Emak akan mengulas sosok pejuang perempuan tangguh yang kiprahnya diakui dunia internasional. Penasaran siapa beliau, Mak? Beliau adalah Rahmah El Yunusiyah. Mungkin tak banyak yang tahu dengan sosoknya namun kiprah dan perjuangan tidak dapat dipandang sebelah mata, sepak terjang lebih besar dan berliku jika dibandingkan dengan RA. Kartini. Bahkan beliau mempelopori pengadaan senjata serta menjamin seluruh perbekalan saat Revolusi Nasional Indonesia. Walau namanya tak setenar Kartini, namun perjuangan dan jasa-jasa untuk memperjuangkan dan mencerdaskan kaum perempuan tak bisa di pandang remeh.

Rahmah El-Yunusiyah lahir di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang pada tanggal 29 Desember 1900 dari pasangan Muhammad Yunus Al-Khalidiyah dan Rafia, muslimah pertama yang mendirikan Madrasah khusus untuk perempuan di Indonesia. Putri bungsu dari lima bersaudara ini sejak kecil memang telah memiliki minat belajar yang sangat tinggi, selain belajar pada ayah dan kakak lelakinya, beliau juga menuntut ilmu kepada beberapa ulama seperti: Haji Karim Amrullah (ayah dari KH. Buya Hamka), Syaik Muhammad Jamil Jambek, Syaik Daud Rasyidi dan Syaik Abdul Latif Rasyidi.

Pada tanggal 1 November 1923, Rahmah El-Yunusiyah mendirikan Madrasah Diniyah Putri, dalam mendirikan sekolah ini beliau harus jatuh bangun. Namun berkat kegigihan beliau sekolah ini masih eksis sampai saat ini. Pada tahun 1936 beliau membentuk Sekolah Menyesal Sekolah, sekolah ini ditujukan kepada ibu-ibu yang tidak bisa baca tulis berfokus pada meningkatkan ketrampilan perempuan seperti memasak, menjahit, dan menenun. Selain itu beliau juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan salah satunya pernah menjadi angota pengurus Gerakan Kaum Ibu Sumatra (GKIS).

Beliau adalah pioneer kemajuan perempuan Sumatra Barat pada masanya, kiprahnya memang luar biasa, sering kali berpekara dengan pemerintah Belanda, pernar dicekal dan dipenjara oleh Belanda karena menentang kebijakan pemerintahan Belanda. tidak hanya itu beliau amat konsen pada pendidikan dan mengangkat martabat perempuan namun beliau juga aktif dalam berbagai organisani politik salah satunya Masyumi, mengantar beliau menjadi anggota parlemen (1955-1958), karena kiprahnya yang tak biasa pada tahun 1957 beliau memperoleh gelar kehormatan “ Syekhah” dari universitas Al-Azhar, gelar pertama yang diberikan Al-Azhar kepada seorang Muslimah.

Aminuddin Rasyad dan kawan-kawan mengungkapkan, Dimasa penjajahan Jepang Bunda Rahmah menuntut kepada pemerintah Dai Nippon untuk menutup rumah-rumah bordil dan memprotes ekploitasi perempuan Indonesia yang dijadikan wanita penghibur untuk tentara Jepang. Saat kemerdekaaan dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta, Bunda Rahmah segera menaikkan Sang merah putih di halaman sekolah, beliaulah orang pertama yang melakukan hal ini di Sumatra Barat.

Pada tahun 1958 Rahmah mengundurkan diri dari parlemen, beliau kecewa dengan Soekarno, karena Presiden RI ini lebih dekat dengan orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Beliau dicap menentang pemerintahan Sukarno. Saat Syafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintahaan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Bukit Tinggi beliau mendukung. PRRI menuntut hak otonomi daerah yang lebih luas kepada pemerintah RI, namun hal ini dianggap sebagai pemberontakan dan harus ditumpas habis.

Suatu senja pada tanggal 26 Febuari 1969 maut merenggutnya, Rahmah El-Yunusiyah membuktikan kepada dunia bahwa muslimah Indonesia bukanlah perempuan lemah dan terbelakang. Meskipun beliau tidak tercatat sebagai Pahlawan Nasional, tetapi kisah perjuangan serta perjalanan hidupnya mampu memberi inspirasi banyak orang, terutama kaum wanita, Mak!

Penulis : Elvida Busma ( elv.fifa0424@gmail.com)

Post a Comment

0 Comments